Icon

Cagar Budaya

Bangunan SMP Negeri 2 Cimahi (ex Julianaschool)

admin 04 June 2025

Bangunan SMP Negeri 2 Cimahi (ex Julianaschool)

Pada masa Hindia Belanda, Cimahi merupakan kota garnisun militer yang sangat penting. Kota kecil ini diresmikan sebagai garnisun militer terbesar di Hindia Belanda pada September 1886 (Lubis, 2004:20). Sejumlah fasilitas militer, seperti rumah sakit, penjara, barak, dan tangsi tentara pun didirikan untuk menampung para tentara dari KNIL (Koninglijk Nederlansch Indies Leger). Biasanya tangsi dipakai untuk tempat tinggal keluarga tentara pribumi berpangkat rendah. Sementara itu, tentara Belanda yang terdiri atas tamtama, bintara, dan bintara tinggi, menempati rumah-rumah dinas (Voskuil, 2017:53). Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan bagi keluarga KNIL ini, dibangunlah sejumlah sekolah dasar dan lanjutan untuk anak-anak tentara Belanda maupun untuk pribumi. Salah satunya adalah Julianaschool. Julianaschool sejak awal merupakan sekolah menengah umum Kristen setingkat SMP.

Pada peta topografis tahun 1904 yang dikeluarkan oleh Dinas atau Biro Topografi 1905, di lokasi Julianaschool belum menunjukkan tanda bangunan. Hanya tertulis PK een TK dan di tepi jalan terdapat beberapa simbol kotak yang merupakan bangunan. Sementara itu, pada Peta Belanda tahun 1931 yang dikeluarkan secara digital oleh Universiteit Bibliotheken Leiden, sudah menunjukkan simbol bangunan yang berbentuk leter U. Kemudian di peta itu terdapat jalan dari depan lapang tenis yaitu Prins Hendrik Laan (Jalan Jenderal Sudirman sekarang) yang mengarah ke bangunan tersebut. Kemudian pada peta tahun 1940, sudah menyebutkan nama Julianaschool. Berdasarkan buku tahunan Persatuan Guru-guru Kristen di Hindia Belanda tahun 1932 disebutkan bahwa Julianaschool diresmikan pada 1 Juli 1927 (Ashes, A van, 1932:114). Sementara itu, pembukaan kelas/sekolah dilaksanakan pada 29 Juli 1927 (School met den Bijbel 1927-1928, halaman 61) dengan jumlah siswa setingkat SMP sebanyak 181 orang dan 28 siswa TK. Kepala sekolah pertama Julianaschool adalah Jan Gerrit Vreeswijk. Dia dibantu oleh istrinya sebagai pengajar, yaitu Ny LE Vreeswijk Bruens, serta guru lainnya, seperti Ny MCL Klink Zurhaar, LAM Gonggrijp van der Sanden, dan P van Houten (Ashes, 1932:114).

Sementara itu, dalam buku tahunan Persatuan Guru-guru Kristen di Hindia Belanda edisi 1934 menyebutkan, kepala sekolah Julianaschool adalah J. C. Dammeyer. Rupanya pada 25 April 1933, Vreeswijk meninggal dunia, sebagaimana diberitakan Het Vaderland : staat- en letterkundig nieuwsblad edisi 28-4 1933. Sementara itu, dalam koran Nieuwe Utrechtsche courant, edisi 1-6-1933, memuat ungkapan belasungkawa dan terima kasih dari pihak keluarga J. G. Vreeswijk Sr.

Pada 1938, sebagaimana ditulis dalam buku terbitan Departemen Onderwijs en Eeredienst (Departemen Pendidikan dan Agama) Hindia Belanda berjudul Volledige opgave van openbare-, gesubsidieerde-en gelijkwaardigverklaarde, niet gesubsidieerde onderwijsinrichtingen, halaman 28, Julianaschool tercatat sebagai Europeesche Lagere School (ELS). Sekolah ini diperuntukkan bagi anak-anak Eropa dan pribumi dari kalangan elite. Kurikulumnya mengacu pada sistem pendidikan di Belanda dan menggunakan bahasa Belanda pengantar.

Pada zaman Jepang dan perang Kemerdekaan, Julianaschool ditutup. Setelah adanya pengakuan kedaulatan Indonesia, aset-aset yang semula dikuasai Belanda kemudian diserahkan kepada pemerintah Republik Indonesia.

Sejumlah aset sipil Belanda di Cimahi, seperti bioskop Rio dan bangunan sekolah Julianaschool pun, diserahterimakan kemudian kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat antara tahun 1950 1959.

Koran De Preangerbode terbitan 7 November 1952, memberitakan bahwa Julianaschool dibuka kembali untuk sekolah penyetaraan pendidikan bagi TNI. Dibuka di Cimahi dan Bandung untuk kepentingan personel Angkatan Darat.

Adapun sekolah yang ada di Cimahi, menempati bangunan Julianaschool yang ada di Jalan Sudirman saat ini, yang dibuka mulai pukul 3 sore. Sementara itu, untuk sekolah yang ada di Bandung, berlokasi di Jalan Patrakomala 57A. Sekolah tersebut mulai dioperasikan pada pukul 5 sore. Pembukaan kedua sekolah rakyat tersebut dilakukan oleh Mayor Soegiartho.

Lalu pada tahun 1958, berdasarkan SK pendirian sekolah yang dimuat di dapo.kemdikbud.go.id, Julianaschool berubahn menjadi SMP Negeri 2 Cimahi. Di saat yang bersamaan, bangunan ini digunakan juga untuk Sekolah Guru Bawah Negeri (SGBN) 1 Cimahi yang berlangsung hingga 1961.

Kemudian pada tahun 1958, pemerintah mengeluarkan UU Nomor 86 tahun 1958 tentang Nasionalisasi Perusahaan-perusahaan Belanda yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno pada 27 Desember 1958.

Saat ini, kepemilikan lahan dan bangunan SMP Negeri 2 Cimahi dimiliki oleh PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten, Tbk. (selanjutnya disebut “Bank bjb” atau perseroan). Sebelum bernama bank bjb, bank tersebut bernama Bank Karya Pembangunan Jawa Barat yang merupakan hasil nasionalisasi N.V Denis (De Eerste Nederlandsche Indische Shareholding).

N.V Denis ini dinasionalisasi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1960 tentang Penentuan Perusahaan Milik Belanda di Indonesia yang Dikenakan Nasionalisasi. Di dalam PP tersebut, dijelaskan bahwa N.V Denis memiliki sejumlah anak perusahaan, di antaranya N.V Bank Denis dan NV Baros.

Berdasarkan surat keterangan pendaftaran tanah pada tahun 1975, bahwa pada 24 September 1960, pemilik lahan SMPN 2 Cimahi tertulis atas nama NV Bouwe Mij Baros. Dengan demikian, tanah dan bangunan SMPN 2 Cimahi merupakan aset milik Bank BJB.

-

Buka: 07:00

Tutup: 17:00

Harga: Rp.0,00

Alamat: Jl. Jend. Sudirman No.152, Baros, Kec. Cimahi Tengah, Kota Cimahi, Jawa Barat

Bagikan:

Wisata Terbaru