Icon

Cagar Budaya

Rumah Pemotongan Hewan

admin 04 June 2025

Rumah Pemotongan Hewan

De Preanger Bode, koran berbahasa Belanda, 11 Januari 1913, memberitakan rencana pendirian rumah jagal atau slachthuis atau Abattoir di Bandung dan Cimahi. Perusahaan yang akan membangunnya adalah NV Handel Maatschappij Jenne & Co di Batavia. Jenne & Co adalah importir sapi asal Australia dan bawang putih. Lokasi  Rumah Pemotongan Hewan ini berdasarkan peta Tjimahi tahun 1905 di ujung School weg terdapat simbol kotak. Simbol ini mengindikasikan bangunan semi permanen atau terbuka. Sementara pada Peta Tjimahi tahun 1931 di lokasi yang sama terdapat 2 simbol kotak yang menunjukkan adanya bangunan. Koran Bataviaasch Nieuwsblad terbitan 18 Oktober 1916 memberitakan soal pembukaan abattoir Tjimahi ini. Pengelola Abattoir ini Jenne & Co. Lokasinya berada di Schoolweg (Jalan Sukimun sekarang). Lokasinya dekat stasiun KA untuk memudahkan distribusi. 

Saat pembukaan abattoir, pengelola mengundang para wartawan. Sistem pemotongan ternak yang praktis, sangat efektif, lebih higienis, dan lebih etis diperlihatkan pada saat itu. Pengaturan tempat pemotongan hewan dibuat sedemikian rupa, sehingga hewan yang akan dijagal tidak tersiksa. Daging dari abattoir ini kebanyakan didistribusikan ke barak-barak tentara KNIL. Dimana Cimahi pada masa itu merupakan garnisun militer. Disebutkan pula, pembangunan abattoir ini menelan biaya 35.000 gulden. Kapasitas pemotongan mencapai 10 ekor hewan per hari. Dari sebuah artikel di koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi 17 Oktober 1916, diketahui bahwa perancang bangunan abattoir ini adalah Kapten Zeni J Lacauille. Artikel itu menerangkan tentang sistem modern yang diterapkan di Rumah Potong Hewan Tjimahi, berikut terjemahan artikel tersebut: 

  1. Fasilitas ini terletak di dekat sungai kecil dengan kemiringan medan, sementara sebuah dinding yang dibangun khusus  Staatsspoorwegen (S.S) harus memastikan pasokan yang cepat.
  2. Pilihan lokasi yang menyenangkan,  menyederhanakan operasi serta membuatnya murah. Meskipun secara keseluruhan kapasitas abattoir ini skala kecil (hanya 8 hingga 9 ekor sapi yang dapat ditangani secara bersamaan). Namun desain pekerjaan utilitas ini tetap sepenuhnya sejalan dengan ide-ide modern.
  3. Ini sebuah deskripsi singkat, tentang alur ternak yang akan disembelih di Abattoir Tjimahi.
  4. Sapi-sapi Australia, yang dibawa dengan gerobak, diturunkan di area bongkar muat tertutup berbentuk corong.
  5. Sebuah gerbang geser menutup akses ke koridor sempit, yang juga dipagari dan mengarah ke bawah, di mana sapi-sapi itu harus digiring satu per satu untuk mencapai kandang tertutup setinggi 4 meter.
  6. Dari sini, sapi digiring ke parit sempit dan akhirnya dikurung di dalam kandang, sehingga berat kotornya dapat ditentukan dengan menggunakan jembatan timbang.
  7. Setelah ini selesai, sekat lain dibuka dan hewan mencapai posisi terakhirnya, di mana ia menerima nasib untuk disembelih.
  8. Lantai kandang ini diletakkan di atas tanjakan, sehingga hewan yang jatuh akan bersandar pada perosotan, sehingga setelah mendapatkan segel besi ini, hewan berakhir di rumah jagal yang sebenarnya, di mana proses lebih lanjut membuatnya siap untuk segera digunakan.
  9. Rumah jagal, yang memiliki luas permukaan sekitar 8x15 M, terdiri dari dua tempat yang saling bertumpuk.
  10. Di lantai dasar, sapi dikuliti dan dibersihkan, dan setelah ditimbang bersih di pengait, diangkat ke area lantai dasar di mana mereka digantung berdampingan dengan cara yang biasa dilakukan untuk pemeriksaan dan pengiriman.
  11. Cahaya dan udara disediakan dengan baik. Area penyembelihan memiliki bukaan besar yang ditutup dengan jeruji besi, sementara di “ruang pamer”, bukaan serupa ditutup sebagian dengan kaca, sebagian lagi dengan kasa.
  12. Pipa air (mata air), yang dibangun khusus untuk perusahaan ini, mengambil dari pipa air yang berjarak tiga puluh meter.
  13. Potongan dalam di lapisan yang dapat ditembus air berfungsi sebagai cekungan penampungan, dari mana air, setelah penyaringan, disalurkan melalui pipa ke gudang air bersih.
  14. Dari sini, air dipompa ke reservoir yang lebih tinggi, sementara kelebihan air mengalir ke waduk di dekat area pencucian luar rumah potong hewan.
  15. Sebuah pipa besar berdiameter sekitar 10 cm mengalirkan air dari tandon yang tinggi ke lantai batu di atas rumah jagal, sehingga dengan satu gerakan tangan, lantai yang agak cekung ini dapat dibilas hingga bersih dan semua daging dapat dicuci.
  16. Sisa makanan, dll. dapat langsung dialirkan ke aliran di belakang.
  17. Sudut-sudut yang membulat di ruangan ini dan cat yang dapat dicuci menjamin pembersihan yang menyeluruh.
  18. Selain pipa-pipa air ini, sebuah sumur telah dibangun untuk memasok air yang dibutuhkan untuk membersihkan gudang.
  19. Jalan yang digunakan untuk membawa daging yang dijual ke kota, mengarah dari “showroom” melewati kandang gerobak dan selanjutnya melewati padang rumput yang dikelilingi pagar kawat, di mana sapi-sapi potong disimpan sebagai cadangan.

Kesan keseluruhan dari fasilitas yang dirancang secara praktis ini adalah: kebersihan. Semua persyaratan kebersihan dan utilitas telah dipenuhi.

Dalam Bataviaasch Nieuwsblad terbitan 1 Juni 1927, disebutkan, rumah pejagalan Tjimahi dibeli oleh Pemerintah Daerah Priangan senilai 25.000 gulden dari NV Handel Maatschappij Jenne & Co.

Pemberitaan berikutnya pada 24 Juni 1927, RPH ini diserahkan Pemerintah Daerah Priangan kepada suatu badan usaha milik pemerintah di Kabupaten Bandung. Dalam berita lain disebutkan, tatkala Kaboepaten ini didirikan, roemah potong di Tjimahi diserahkan Negeri kepada daerah ini (Locale Techniek, 1933:12).

Penyerahan Rumah Potong Hewan di Tjimahi termasuk dengan tanah kepadada pihak Kabupaten Bandung pun tercatat dalam  Staatsblad van Nederlandsch-Indië voor ..., 1928, 01-01-1928 halaman 41-43.

Pada zaman Jepang, berdasarkan kesaksian seorang mantan interniran, JB Rijsemus, yang dimuat di majalah De vee-en vleeschhandel; weekblad voor veehandelaren, slagers, exporteurs enz., jrg 31, 1946, no. 18, 01-05-1946 Halaman 12, diketahui bahwa rumah potong hewan ini masih berfungsi.  Setiap pagi Rijsemus dijemput tentara Jepang pakai mobil menuju rumah potong hewan.

Pada tahun 2001 RPH ini diserahkan dari Pemkab Bandung kepada Pemerintah Kota Cimahi setelah adanya pemekaran dari kota administratif menjadi Kota Cimahi.

-

Buka: 09:00

Tutup: 16:00

Harga: Rp.0,00

Alamat: Jalan Sukimun, Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi

Bagikan:

Wisata Terbaru