Icon

Cagar Budaya

Gerbang Kerkhof Leuwigajah

admin 10 June 2025

Gerbang Kerkhof Leuwigajah

Makam Belanda di Indonesia disebut dengan nama Kerkhof. Lengkong Sanggar Ginaris dalam artikel Kelam Kerkhof Purbalingga menjelaskan, asal muasal istilah Kerkhof sendiri berasal dari bahasa Belanda, Kerk (gereja) dan Hoff (Halaman), jika diartikan adalah halaman gereja.

Laman https://kebudayaan.kemdikbud.go.id, menuliskan, dalam beberapa arsip sejarah disebutkan, makam Belanda juga bisa disebut begraafplaats. Di Indonesia pemakaman Belanda banyak dibangun sebelum abad 19. Namun tradisi pemakaman di halaman gereja diawali sejak abad 7 Masehi. Dengan mempertimbangkan bahwa gereja merupakan tempat suci. Selain itu, kehidupan masyarakat Eropa juga sangat lekat dengan gereja.

Dikutip dari artikel “Inilah Sejarah Makam Londo Kerkhof di Indonesia” yang terbit di koranjuri.com, pola penataan makam Kerkhof dilakukan menurut hierarki strata sosial jenazah yang mati. Tradisi ini berakhir karena padatnya penduduk saat memasuki abad 18. Sehingga, berdampak pada tingginya angka kematian yang membuat halaman gereja tak lagi mampu menampung jenazah.

Di awal abad 20, pemerintah kota praja mulai mengambil alih pengelolaan pemakaman. Tata kelola pemakaman tidak lagi mengedepankan keindahan tetapi lebih ditekankan pada keindahan lanskap dan lingkungan alami.

Sebagai penandanya, tata letak Kerkhof ditandai dengan simbol salib. Selain berada di perkotaan, pemakaman Belanda juga banyak ditemukan berada di dekat perkebunan, garnisun militer atau pusat pusat penyebaran agama Kristen.

Tata letak pemakaman Kerkhof mempertimbangkan beberapa unsur sehingga tidak menghambat perluasan kota serta dapat diperluas sewaktu-waktu. Di antaranya, lokasi tanah datar, air tidak menggenang, tanah mudah digali, drainase baik serta cukup luas areanya.

Sebagai sebuah kota militer yang dibangun dan diresmikan oleh Belanda pada September 1896 (Lubis, 2004:20), Cimahi pun memiliki tempat pemakaman khusus untuk orang-orang Belanda atau Kerkhof.

Namun awalnya Kerkhof ini bukan berada di daerah Leuwigajah, melainkan di Gunung Bohong. Peta Tjimahi tahun 1904 belum memunculkan simbol makam di sekitar daerah Leuwigajah.

De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad edisi 19-12-1898 memberitakan, Residen Priangan telah diberi wewenang untuk mengeluarkan anggaran sebesar 9.297 gulden untuk membangun pemakaman bagi orang Eropa dan orang asing lainnya di Cimahi. Sebagai langkah pertama, Residen bisa mengeluarkan anggaran sebesar 524 gulden per tahun untuk biaya pemeliharaan dan keamanan di daerah pemakaman tersebut.

Informasi tentang keberadaan Kerkhof Cimahi di Gunung Bohong juga disampaikan seorang jurnalis asal Belanda, Willem Walraven, yang pernah mengunjungi Cimahi, bahkan menikahi gadis Cimahi.

Willem datang ke Hindia Belanda secara sukarela setelah bergabung dengan Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) dan bertolak ke Indonesia pada tahun 1915. (Artikel Nyai Itih, Gundik Asal Cimahi yang Buat Jurnalis Belanda Tergila-gila detik.com, Minggu, 20 Nov 2022, diakses pada Rabu 4 September 2024).

Pada tahun 1930, Walraven memilih bekerja sebagai wartawan lepas untuk Indische Courant. Ia sering menulis menggunakan nama samaran Maarten Cornelis atau M.C. Salah satu karya tulisannya terbit di Indische Courant edisi 22 Juli 1939 berjudul De Preanger bagian III. Dalam tulisan itu, Ia menceritakan pernah mengunjungi pemakaman Goenoeng Bohong.

Permakaman itu, menurut Walreven, berada di kaki Gunung Bohong dengan posisi yang cukup baik. Namun pemakaman atau Kerkhof itu sudah tidak digunakan lagi, karena kondisi air tanah di tempat itu “menjijikkan”.

Walraven menyebutkan, makam-makan di Gunung Bohong telah dipindahkan ke sebuah pemakaman militer baru di daerah Leuwigajah, di seberang Jalan Baros. Menurut Walraven, makam-makam di Goenoeng Bohong sering kali tidak memiliki prasasti dan ia tidak menemukan apa pun yang bisa jadi bukti bahwa pernah ada permakaman di sana. Tulisan serupa dimuat ulang di majalan Orientatie; cultureel maandblad, 1949, no. 23 24, 01-08-1949 halaman 109.

Dari cerita Walraven terungkap, bahwa Kerkhof awal di Cimahi yang diperkirakan dibangun pada tahun 1898 berada di Gunung Bohong. Namun kemudian dipindahkan ke daerah Leuwigajah.

Walraven menulis berita itu pada tahun 1939. Sementara Peta Tjimahi tahun 1931 keluaran KITLV sudah menunjukkan tanda makam di sekitar daerah Leuwigajah. Itu menunjukkan Kerkhof Leuwigajah sudah ada pada tahun 1931 atau sebelumnya.

Koran De koerier edisi 8 Agustus 1934 mengabarkan, bahwa Bupati Bandung akan berkunjung ke makam tua di Cimahi yang kondisinya sangat buruk. Pemakaman tua, yang di situ sudah tidak ada lagi yang dimakamkan, berada di lereng bukit Gunung Bohong, sebelah lapangan tembak militer.

Sekitar tiga tahun lalu, di Kerkhof Gunung Bohong itu terjadi tanah ambles. Hal itu menjadi alasan Bupati atas persetujuan Dewan untuk memutuskan memindahkan makam-makam ke tempat lain. Pilihan jatuh ke lahan yang berada di Jalan Leuwigajah-Batujajar. Bupati pun mengunjungi pekuburan tua di Gunung Bohong itu untuk memeriksa langkah apa yang akan diambil untuk perbaikan kondisi tersebut.

Informasi tentang keberadaan pemakaman baru orang Eropa di jalan Cimahi-Batujajar juga terungkap dalam sebuah pengumuman singkat yang dimuat koran De Koerier edisi 02 Juni 1934. Pengumuman itu menyebutkan bahwa Asosiasi Olahraga Equestrian Militer Priangan pada hari Minggu akan mengadakan latihan lintas alam. Para peserta harus berkumpul pada pukul 07.30 pagi di dekat Kerkhof baru di Jalan Leuwigajah-Batujajar.

Terkait kapan Kerkhof Leuwigajah dibangun atau mulai dipakai sebagai pemakaman baru pindahan dari Gunung Bohong, dapat dibaca dari berita Bataviaasch Nieuwsblad edisi 25 Maret 1927.

Dalam berita itu disebutkan, bahwa pada pertemuan keempat antara Bupati dan Dewan Kabupaten pada 7 April, akan dibahas soal pinjaman uang sebesar 80.000 gulden untuk pembangunan saluran air dan pembangunan makam baru di Cimahi.

Koran De Locomotief edisi 29 April 1927, yang artinya diterbitkan setelah terjadi pertemuan Bupati dengan Dewan Kabupaten, menyebutkan, Dewan Kabupaten mengusulkan untuk meminjam dana bagi pembangunan saluran air bersih, sebuah pemakaman di Cimahi dan pembangunan lima rumah pemotongan hewan dengan total dana sebesar 91.500 gulden.

Koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie edisi 30 Juli 1935, memberitakan, bahwa pada Selasa 6 Agustus 1934 akan digelar pertemuan Dewan Kabupaten Bandung. Selain membahas usulan perubahan peraturan daerah tentang reklame, Dewan juga akan membahas usulan perluasan lahan Kerkhof di Leuwigajah, untuk penambahan permakaman bagi anak-anak.

Dalam anggaran tahun 1935, disebutkan jumlah anggaran untuk membeli lahan sebesar 1.500 gulden. Namun rupanya para pemilik tanah tidak akan melepasnya, kecuali jika dibeli dengan harga 2.700 gulden. Permintaan itu disetujui oleh Dewan Kabupaten.

Hingga tahun 1950, Kerkhof ini masih tetap digunakan sebagai lahan permakaman bagi orang-orang Eropa. Baru setelah masa penyerahan kedaulatan dan orang-orang Belanda banyak yang meninggalkan Indonesia, pemakaman Kerkhof ini akhirnya menjadi permakaman orang Kristen dan Tionghoa.

Hingga tahun 2001 sebelum terbentuknya Kota Cimahi, Tempat Pemakaman Umum (TPU Leuwigajah) atau lebih dikenal sebagai TPU Kerkhof ini diisi oleh 7.028 makam. TPU seluas 26.677 meter persegi saat ini dikelola UPTD Pemakaman Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Cimahi.

-

Buka: 07:00

Tutup: 17:00

Harga: Rp.0,00

Alamat: Jl. Kerkof No.68A, Leuwigajah, Kec. Cimahi Sel., Kota Cimahi, Jawa Barat 40532

Bagikan:

Wisata Terbaru