admin 22 July 2024
Saat diresmikan menjadi garnisun
militer terbesar di Hindia Belanda pada 4 September 1896, Cimahi didiami oleh
ribuan personel tentara Koninklijk Leger (KL) dan Koninklijk Nederlansche
Indische Leger (KNIL). Mereka ditempatkan di barak-barak dan markas-markas
tentara. Sebagian ada pula yang tinggal di rumah-rumah dinas yang tersebar di
sejumlah tempat. Tentara KNIL ini berlatih perang di lapangan tembak Gunung
Bohong dan Batujajar. Selanjutnya mereka dikirim ke medan perang, seperti Aceh
dan Bali. Untuk menambah semangat, dibuatlah sejumlah fasilitas hiburan untuk
tentara. Salah satu tempat megah yang dibangun untuk keperluan hiburan ini
adalah Societeit voor officieren, tempat hiburan khusus untuk tentara
berpangkat perwira.
Gedung ini diperkirakan dibangun
setelah pembangunan rumah sakit militer dan penjara militer selesai. Di tempat
ini para perwira bisa berdansa, menonton pertunjukan teater dan musik kamar.
Selain itu mereka juga dapat bermain biliar dan bowling. Keramaian pesta pada
malam hari di Societeit membawa suasana seperti di Eropa, sehingga mereka para tantara
berpangkat tinggi serasa hidup di negeri mereka sendiri. Di zaman Jepang,
fungsi Societeit berubah. Gedung megah itu tak lagi menjadi tempat hiburan,
tapi menjadi markas tentara.
Setelah Indonesia merdeka pada
1945, Belanda sempat datang dan menguasai kembali Cimahi. Gedung ini pun
kembali menjadi tempat dansa dan hiburan hal itu hanya para perwira. Namun
berlangsung lima tahun. Pada Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan
Indonesia. Sejak itu, satu persatu aset-aset milik Belanda diserahkan kepada
Indonesia. Gedung-gedung dan instalasi militer pun diserahkan tentara Belanda
kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI), termasuk gedung Societeit ini. TNI
mengambil alih kepemilikan Gedung Societeit dan mengganti namanya menjadi
"Balai Pradjoerit Soedirman" atau lebih dikenal dengan sebutan Gedung
Sudirman.
Sejak saat itu, Gedung Sudirman
dipakai sebagai balai pertemuan umum. Kadang-kadang dipakai pula untuk lokasi
shooting film. Bahkan sempat pula menjadi tempat latihan bulutangkis. Pada
tahun 2001, Gedung Sudirman digunakan sebagai kantor DPRD Kota Cimahi. Ketika
itu terjadi beberapa renovasi pada Gedung Sudirman, seperti penambahan tangga
dan penyekatan dinding-dinding ruangan. Namun hanya berselang empat tahun, Kota
Cimahi sudah memiliki Kantor DPRD yang baru dengan fasilitas yang lebih memadai
di dekat Alun-alun Cimahi. Pada 2005, Kantor DPRD Kota Cimahi pindah ke tempat
baru, sehingga Gedung Sudirman tidak memiliki fungsi (kosong). Keadaan ini
berlangsung hingga tahun 2012.
Selanjutnya pada Maret 2012,
Gedung Sudirman disewa oleh pihak swasta, Peri menjadikan yaitu Peri
Tristianto. Gedung Sudirman sebagai gedung serba guna. Untuk keperluan itu,
Peri melakukan tindakan konservasi pada Gedung Sudirman selama kurang lebih 6
bulan sampai bulan September 2012. Peri pun kemudian mengubah nama Gedung
Sudirman menjadi "The Historich" yang diambil dari perpaduan kata
Bahasa Inggris, yaitu History dan Rich, yang dimaknai sebagai Kaya Akan
Sejarah. Namun pada pertengahan 2017, pihak swasta tidak dapat memperpanjang
masa sewa. Kepemilikan dan pengelolaan Gedung The Historich kembali ke tangan
Ajudan Jenderal Daerah Militer III/Siliwangi. Namanya kembali ke semula, yaitu
Gedung Sudirman. Namun tulisan "The Historich" pada fasad bangunan
tidak dilepas, sehingga kebanyakan orang lebih mengenal Gedung Sudirman ini
sebagai "The Historich". Fungsi Gedung Sudirman saat ini lebih banyak
digunakan untuk kegiatan resepsi pernikahan dan kegiatan besar lainnya.
-
Buka: 08:00
Tutup: 16:00
Harga: Rp.0,00
Alamat: Jalan Jendral Jl. Gatot Subroto No.19, Baros, Cimahi Tengah, Cimahi City, West Java 40521
10 June 2025
04 June 2025
04 June 2025