admin 22 July 2024
Sejak masa pemerintahan Gubernur
Jendral Herman Willem Daendels (1808-1811), Cimahi direncanakan untuk dijadikan
sebagai daerah pangkalan militer Pemerintah Hindia Belanda guna membantu
pertahanan militer di pulau Jawa. Dipilihnya Cimahi sebagai daerah pangkalan
militer dengan pertimbangan letak geografisnya yang strategis, berada di daerah
pedalaman yang dilalui jalur rel kereta api maupun jalan raya Bogor-Bandung dan
Cikampek serta jalur kereta api Batavia-Bandung. Untuk mewujudkan Cimahi
menjadi kota militer, berbagai sarana penunjang seperti kompleks Perumahan
Perwira (di Jalan Gedung Empat sekarang), Markas Militer (sekarang Markas
Kodim), Rumah Sakit Garnisun (sekarang Rumah Sakit Dustira), barak/ tangsi
(tersebar, saat ini menjadi berbagai pusat pendidikan TNI AD) Societeit Perwira
dan Penjara Militer (sekarang Rumah Tahanan Militer Poncol) dibangun antara
tahun 1896 1897.
Cimahi juga merupakan kota markas
besar garnisun militer Belanda yang diresmikan pada bulan 4 September 1896
dengan komandan pertamanya Majoor Infanteri C.A. Loenen dan ajudannya Luitenant
J.A Kohler. Dengan dijadikannya Cimahi sebagai pangkalan militer, maka
terjadilah penempatan tentara dalam jumlah relatif besar, baik Tentara Kerajaan
Belanda (KL) maupun Tentara Hindia Belanda (KNIL) yang kebanyakan berasal dari
Flores, Timor, Ambon, Manado dan Jawa. Tidak sedikit di antara keluarga tentara
tersebut terdapat keluarga yang beragama Katolik. Untuk memenuhi kebutuhan
rohani umat akan kegiatan beribadah, maka umat Katolik yang berasal dari
kalangan tentara dilayani oleh Pastor tentara (aalmoezenier), sedangkan umat
Katolik yang bukan tentara dilayani oleh Pastor yang berasal dari Cirebon,
karena sejak tahun 1878 Cirebon menjadi salah satu stasi dari Vikaris (wilayah
pelayanan gereja Katolik) Batavia yang dipercayakan kepada Pastor Adolphus
Philippus Caspar Van Moorsel SJ untuk melayani daerah Priangan dan Tegal. Dua
tahun kemudian, pada tahun 1880 Paroki St. Yosef Cirebon ditingkatkan statusnya
menjadi Gereja Cirebon yang diresmikan oleh Uskup Mgr.A.Claessens dan diberi
nama pelindung Santo Yoseph. Pada tahun 1895, Mgr. Walterus Staal SJ, Vikaris
Apostolik Batavia meresmikan dan memberkati gedung gereja Katolik pertama di
Bandung yang diberi nama pelindung Santo Fransiskus Regis di sudut Jalan
Schoolweg (sekarang Gedung Bank Indonesia di Jalan Merdeka) dan Jalan Kerkweg
(kini Jalan Wastukencana). Gereja tersebut kemudian dijadikan sebagai gedung
pertemuan Katholieke Sociale Bond (KSB) setelah gereja Katedral St. Petrus yang
terletak di seberangnya (sudut Jalan Jawa dengan Jalan Merdeka) dibangun dan
diresmikan pada tanggal 19 Februari 1922 oleh Mgr. E. Luypen SJ. Pendirian
gereja tersebut dilatarbelakangi oleh semakin berkembangnya umat Katolik di
Kota Bandung yang berasal dari kalangan pegawai pemerintah Hindia Belanda yang
beragama Katolik.
Perkembangan itu terjadi karena
sejak tahun 1884 hubungan kereta api antara Bandung dan Batavia semakin
intensif sehingga Bandung berkembang menjadi kota besar. Dengan berdirinya
Gereja St. Fransiskus Regis, maka sejak tahun 1907 Bandung menjadi Stasi
(kewilayahan) baru dengan Pastornya J. Timmers SJ. dan dibantu oleh Pastor Fv.
Santen SJ, maka umat Katolik yang berada di Cimahi dilayani secara lebih
intensif oleh kedua Pastor tersebut secara bergantian sebulan sekali. Hal ini
terjadi karena Cimahi termasuk wilayah Stasi Bandung yang semula merupakan
bagian dari Paroki Santo Yosef Cirebon. Pada tanggal 13 Februari 1907 Cimahi
terpisah dari Cirebon dan berdiri sendiri sebagai Stasi. Informasi yang
diperoleh dari pemberitaan koran De Preanger Bode edisi 30 September 1906,
awalnya kebaktian jemaat ini dilakukan di gedung sekolah di Baros. Kebaktian
diadakan pada hari Minggu terakhir setiap bulan dengan Pastor C.J. Hoevenaars.
Tahun 1908 merupakan tonggak utama sejarah pelayanan gereja Katolik Cimahi di
mana pada tahun tersebut bangunan gereja yang didirikan oleh para imam dari
ordo Serikat Jesus (SJ), secara resmi menggunakan nama pendiri ordo tersebut yaitu
Santo Ignatius Loyola (1491-1556) sebagai nama pelindung gereja.
Gereja Katolik
Buka: 07:00
Tutup: 21:00
Harga: Rp.0,00
Alamat: Jl. Baros No.8, Baros, Kec. Cimahi Tengah, Kota Cimahi, Jawa Barat 40521
10 June 2025
04 June 2025
04 June 2025