Icon

Cagar Budaya

Bangunan Stasiun Kereta Api Cimahi

admin 22 July 2024

Bangunan Stasiun Kereta Api Cimahi

Kereta api masuk wilayah Priangan saat perusahaan swasta (Verenigde Spoorwegbedrijf-VS) Nederlandsch Indische menyelesaikan pembangunan rela kereta Batavia (Jakarta) Buitenzorf (Bogor) pada tahun 1873 (Katam, 2014:5). Jalur ini mulai dioperasikan pada 31 Januari 1873. Pembangunan jalan kereta api ternyata tidak hanya dilatarbelakangi oleh masalah ekonomi, yaitu kesulitan angkutan hasil- hasil perkebunan. Tapi juga ada latar belakang lain yaitu militer (Mulyana, 2017:54). Pembangunan rel kereta api dari Bogor dilanjutkan hingga ke Bandung melalui Sukabumi - Cianjur dimulai pada tahun 1878. Jalur Cianjur - Bandung ini secara resmi dioperasikan pada 17 Mei 1884. Karena jalur ini melewati daerah Cimahi, otomatis dibangun pula sebuah halte di Cimahi.

Stasiun Cimahi berada pada ketinggian ±723 meter di atas permukaan air laut itu beralamat di Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi. Stasiun yang termasuk kelas besar tipe C ini masuk dalam Daerah Operasi (Daop) II Bandung (id.wikipedia.org). Pada 8 Mei 1884, dari Bogor, kepala eksplotasi (de chef der exploitatie) jalur kereta api sebelah barat (weterlijnen) mengumumkan pembukaan secara resmi jalur kereta api Cianjur-Bandung yang direncanakan berlangsung pada 17 Mei 1884, disusul pembukaan jalur Bandung - Cicalengka. Dalam pengumuman yang dimuat antara lain dalam Bataviaasch Handelsblad (BH) dan Java-Bode (JB) edisi 10-12 Mei 1884 itu, Stasiun Cimahi sudah disebutkan, tetapi masih berstatus halte. Pengelolaan halte Cimahi baru dilakukan 2 bulan setelah peresmian, yaitu pada Juli 1884 atau dua bulan sebelum peresmian jalur Bandung - Cicalengka. Ini terbukti dari keputusan yang terbaca dalam JB edisi 12 Juli 1884 yang menyebutkan bahwa Halte Cimahi dikelola oleh seorang onderkomis kelas satu. Para pegawai awal yang mengelola Halte Cimahi antara lain J. P. Goernat, komis kelas tiga yang dialihkan pada 1888 (JB dan Bataviaasch Nieuwsblad, BN, 12 April 1888). Orang pribumi juga sudah dilibatkan sejak awal, meski dengan jabatan rendah. Misalnya, Oedjoeng (Ujang) yang menjadi kerani pribumi kelas satu (BN,17 Agustus 1889; dan JB, 19 Agustus 1889), kerani stasiun kelas tiga Abdoel (De Locomotief, DL, 16 Desember 1890), dan kerani kelas tiga Kartosoediro (JB, 29 Juni 1894). Kepala Halte Cimahi hingga awal Maret 1902 tercatat bernama J. E. Swartz (De Preanger-bode, AID, Kemudian, sejak 10 Maret 1902). 1 Maret 1903, Halte Cimahi naik kelas menjadi stasiun kelas tiga, sama dengan Cicalengka. Sementara Cikudapateuh, yang juga menjadi pusat militer kolonial, diangkat stopplaats menjadi halte (AID, dari 28 Februari 1903, dan BN, 2 Maret 1903). Berkaitan dengan status baru itu, maka gedungnya direncanakan dibangun kembali (AID, 19 Mei 1903). Konon bila bangunan baru selesai, kereta api ke Gombong yang biasanya diberangkatkan dari Bandung akan dialihkan Stasiun Cimahi (AID, 26 April 1904).

Pada awal Februari 1905 diberitakan bahwa stasiun baru Cimahi akan selesai bulan Maret 1905. Yang menarik, konon, WC pertama yang dipasang di stasiun kereta api Hindia Belanda ada di Stasiun ke Cimahi (Het Dag voor Nieuws van den Nederlandsch- Indie, HNDNI, atau 2 Februari 1905). Stasiun Cimahi yang baru diresmikan pada 16 Maret 1905. Meskipun tanpa disertai dengan pesta-pesta perayaan (AID, 16 Maret 1905). Keberadaan Stasiun Cimahi memungkinkan perkebunan-perkebunan, terutama di sekitar Cisarua yang berdekatan dengan Lembang, untuk memasarkan hasil produksinya. Selain perkebunan, orang-orang yang berbisnis lainnya pun kerap menggunakan Stasiun Cimahi sebagai alamat dan acuannya. Hal- hal lainnya yang memanfaatkan Stasiun Cimahi sebagai alamat dan acuan bisnisnya adalah penjualan barang, pelayanan jasa dan pelelangan properti. Untuk penjualan barang terlihat dari pengumuman E. A. Von Winning yang beralamat di Merdika Baroe, Bandung, tetapi menyediakan pula layanan di Stasiun Cimahi. Dalam AID (1 April 1901) disebutkan, ia menjual anggur merah impor hasil produksi Henri Byon dan bila membelinya di Stasiun Cimahi dikenakan biaya tambahan sebesar 0,5 gulden. Untuk layanan jasa, misalnya, ada iklan penyewaan pavilun bagi perempuan, yang jaraknya sepuluh menit berkendara dari Stasiun Cimahi (AID, 18 Oktober 1902) dan paviliun di sekitar Stasiun Cimahi (AID, 17 Desember 1921). Sementara dokter bedah yang merangkap sebagai dokter untuk O. J. Lumkeman urusan perempuan membuka praktik di Paviliun A37, di seberang Stasiun Cimahi (AID, 15 Februari 1918).

Dilansir dari ka.id, pada tahun 1942 Pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Semenjak itu, perkeretaapian Indonesia diambil alih Jepang dan berubah nama menjadi Rikuyu Sokyuku (Dinas Kereta Api). Selama penguasaan Jepang, operasional kereta api hanya diutamakan kepentingan perang, untuk termasuk Stasiun Cimahi. Bahkan pagar-pagar besi di sekitar beberapa kereta api yang Stasiun Cimahi pun diangkut oleh tentara Jepang untuk keperluan perang. Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, hari kemudian dilakukan pengambilalihan stasiun dan kantor pusat Puncaknya adalah pengambil alihan Kantor dikuasai Jepang. Pusat Kereta Api Bandung tanggal 28 September 1945 (kini diperingati sebagai Hari Kereta Api Indonesia). Hal ini sekaligus menandai berdirinya Djawatan Kereta Api Indonesia Republik Indonesia (DKARI). Ketika Belanda kembali ke Indonesia Tahun 1946, Belanda di membentuk kembali perkeretaapian Indonesia bernama Staatssporwegen/Verenigde Spoorwegbedrif (SS/VS), gabungan SS dan seluruh perusahaan kereta api DSM). Berdasarkan swasta (kecuali perjanjian damai Konfrensi Meja Bundar 1949, dilaksanakan (KMB) Desember pengambilalihan aset-aset milik pemerintah Hindia Belanda. Pengalihan dalam bentuk penggabungan antara DKARI dan SS/VS menjadi Djawatan Kereta Api (DKA) tahun 1950. Pada tanggal 25 Mei 1963 DKA berganti menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA). Pada tahun tersebut mulai diperkenalkan juga lambang Wahana Daya Pertiwi yang mencerminkan transformasi Perkeretaapian Indonesia sebagai sarana transportasi andalan guna mewujudkan kesejahteraan bangsa tanah air. Selanjutnya pemerintah mengubah struktur PNKA menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) tahun 1971. Dalam rangka meningkatkan pelayanan jasa angkutan, PJKA berubah bentuk menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) tahun 1991. Perumka berubah menjadi Perseroan Terbatas, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) pada tahun 1998. 

-

Buka: 00:00

Tutup: 00:00

Harga: Rp.0,00

Alamat: Jalan Stasiun Cimahi No. 1 Baros, Cimahi Tengah, Cimahi, Jawa Barat 40521

Bagikan:

Wisata Terbaru